Sejarah Borobudur: Pembangunan Abad ke-8 Dari Warisan Dunia

Sejarah Borobudur
0 0
Read Time:6 Minute, 2 Second

Sejarah Borobudur: Pembangunan Abad ke-8 Dari Warisan Dunia – Candi Borobudur adalah salah satu mahakarya kebudayaan terbesar yang pernah dibangun umat manusia. Terletak di Magelang, Jawa Tengah, bangunan raksasa bercorak Buddha ini berdiri megah di antara perbukitan Menoreh dengan latar Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing. Bagi dunia internasional, Borobudur bukan hanya monumen keagamaan, tetapi juga simbol kecerdasan arsitektur Jawa kuno yang berhasil menggabungkan seni, filosofi, dan teknologi konstruksi tingkat tinggi pada abad ke-8. Sebagai warisan dunia UNESCO, Borobudur terus menjadi ruang untuk memahami perjalanan peradaban Nusantara serta kemampuan manusia dalam menciptakan struktur monumental yang melampaui zamannya.

Artikel ini akan menguraikan sejarah Borobudur secara lengkap: mulai dari latar belakang pembangunan, identitas kerajaan yang mendirikannya, proses konstruksi di abad ke-8, makna filosofis struktur bangunan, masa keemasan, kemunduran, hilangnya Borobudur selama berabad-abad, hingga pemulihan besar-besaran pada abad ke-20 yang menjadikannya salah satu situs arkeologi paling penting di dunia.

Latar Belakang Munculnya Borobudur di Abad ke-8

Pembangunan Borobudur berlangsung pada masa berkembangnya agama Buddha Mahayana di Jawa Tengah. Pada abad ke-7 hingga ke-9, daerah ini menjadi pusat kebudayaan yang berkembang pesat, di mana berbagai kerajaan di bawah pengaruh Dinasti Syailendra membangun banyak monumen suci untuk kepentingan spiritual dan politik. Syailendra dikenal sebagai dinasti yang memiliki hubungan kuat dengan budaya India, serta menguasai perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.

Kekuasaan Syailendra mencakup wilayah yang strategis, sehingga aktivitas intelektual, keagamaan, dan perdagangan berkembang kuat. Di tengah kondisi itu, Borobudur dibangun bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan, legitimasi politik, dan pusat pembelajaran agama.

Siapa yang Mendirikan Borobudur?

Walaupun tidak ada prasasti yang secara jelas mencantumkan nama pendiri Borobudur, para ahli sepakat bahwa bangunan ini dibangun di bawah kekuasaan Dinasti Syailendra pada sekitar tahun 780–850 Masehi. Hal ini didukung oleh gaya arsitektur dan ikonografi yang serasi dengan karya-karya lain peninggalan Syailendra, seperti Candi Mendut dan Candi Pawon.

Kerajaan Syailendra dipandang sebagai bangsa yang kaya, terorganisasi, dan memiliki akses pada pengetahuan teknik konstruksi tingkat tinggi. Mereka mampu menggerakkan tenaga kerja besar, merancang sistem pemotongan batu vulkanik, dan menyusun jutaan blok batu andesit menjadi struktur bertingkat tanpa menggunakan semen.

Proses Pembangunan: Keajaiban Teknik Arsitektur Kuno

Pembangunan Borobudur bukan sekadar menumpuk batu. Ia adalah proyek raksasa yang membutuhkan ketelitian matematis dan pemahaman mendalam tentang struktur tanah, geometri, dan simbolisme agama.

1. Lokasi yang Terencana

Borobudur dibangun di atas bukit alam yang kemudian dipadatkan dan dipertegas sebagai fondasi utama. Letaknya berada di kawasan “danau purba”, yang menurut penelitian geologi, memang pernah menjadi cekungan air besar. Penempatan Borobudur di tengah lingkungan alam tersebut memperkuat makna kosmologisnya sebagai “Gunung Meru”, pusat alam semesta dalam kepercayaan Buddha.

2. Penggunaan Batu Andesit

Diperkirakan lebih dari 2 juta balok batu andesit digunakan untuk membangun Borobudur. Batuan ini ditambang dari lereng-lereng gunung di sekitar wilayah Kedu, kemudian diangkut dengan teknik tradisional seperti tenaga manusia, kereta kayu, dan jalur sungai.

3. Konstruksi Tanpa Semen

Setiap batu disusun dengan sistem penguncian alami. Balok-balok dipahat agar bisa saling mengait, sehingga membentuk struktur yang stabil. Teknik pengait batu ini membuat Borobudur tetap kokoh meskipun sering dilanda gempa, erosi, dan perubahan cuaca selama berabad-abad.

4. Sistem Drainase yang Maju

Borobudur dilengkapi ratusan saluran air dan jalur pembuangan. Desain drainase ini sangat efektif mencegah genangan dan kerusakan struktur akibat hujan. Tanpa sistem tersebut, relief-relief di Borobudur akan cepat terkikis.

5. Relief dengan Detail Menakjubkan

Terdapat lebih dari 2.600 panel relief yang menggambarkan kehidupan Buddha, filosofi moral, kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno, serta perjalanan spiritual menuju pencerahan. Seluruh relief dipahat dengan presisi tinggi yang menggambarkan realisme, emosi, dan gerakan yang hidup.

Struktur Filosofis: Perjalanan Menuju Pencerahan

Borobudur bukan hanya bangunan monumental; ia adalah simbol perjalanan spiritual manusia.

Struktur Borobudur dibagi menjadi tiga tingkatan utama sesuai konsep kosmologi Buddha:

1. Kamadhatu (Dunia Nafsu)

Tingkat paling bawah menggambarkan kehidupan manusia yang masih terikat oleh hawa nafsu dan keinginan duniawi. Relief-relief di bagian ini menunjukkan hukum karma dan akibat dari perbuatan manusia.

2. Rupadhatu (Dunia Berbentuk)

Empat tingkat di bagian tengah menampilkan bentuk dunia yang lebih halus. Relief di bagian ini menggambarkan ajaran-ajaran Buddha dan perjalanan moral untuk mencapai kebijaksanaan.

3. Arupadhatu (Dunia Tanpa Bentuk)

Tiga tingkat teratas berbentuk lingkaran dengan stupa-stupa berlubang yang masing-masing menyimpan arca Buddha. Di puncaknya terdapat stupa utama yang melambangkan pencerahan tertinggi.

Keseluruhan struktur Borobudur merepresentasikan perjalanan manusia dari dunia penuh penderitaan menuju Nirwana.

Masa Keemasan Borobudur

Borobudur diperkirakan aktif sebagai pusat kegiatan keagamaan selama sekitar 150 hingga 200 tahun. Pada masa ini, umat Buddha dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara datang untuk melakukan ritual dan pembelajaran. Peran Borobudur tidak hanya bersifat religius, tetapi juga menjadi simbol kejayaan kerajaan yang menguasai wilayah Jawa.

Namun, perubahan politik dan masuknya pengaruh Hindu ke Jawa Tengah membuat peran Borobudur perlahan memudar. Ketika pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10, Borobudur mulai ditinggalkan.

Menghilangnya Borobudur Selama Berabad-abad

Setelah masa keemasan kerajaan-kerajaan Jawa Tengah berakhir, Borobudur perlahan tertutup oleh tanah, abu vulkanik, dan tumbuhan liar. Letaknya yang berada di bekas danau purba menyebabkan sedimen terus menumpuk di sekelilingnya.

Selama berabad-abad, Borobudur seolah lenyap dari ingatan masyarakat. Pengaruh agama baru yang berkembang di Nusantara juga membuat monumen ini semakin tidak dikenal. Masyarakat lokal hanya mengingatnya sebagai bukit besar yang disebut “Budur”.

Penemuan Kembali oleh Thomas Stamford Raffles

Pada tahun 1814, ketika Inggris sempat berkuasa di Jawa, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mendengar laporan bahwa terdapat “gunung batu” misterius di wilayah Kedu. Ia kemudian mengirim inspektur Belanda, H.C. Cornelius, untuk melakukan peninjauan.

Setelah beberapa minggu menebang semak dan pepohonan, bentuk asli Borobudur perlahan muncul kembali. Penemuan ini membuka kembali perhatian dunia terhadap salah satu monumen terbesar di Asia Tenggara.

Masa Pemulihan dan Restorasi Besar Abad ke-20

Upaya pelestarian Borobudur dilakukan bertahap sejak abad ke-19, tetapi restorasi terbesar terjadi pada tahun 1973–1983 melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan UNESCO. Proyek ini melibatkan:

  • pembongkaran sebagian struktur untuk diperkuat kembali,

  • pembersihan batu dari lumut dan kerusakan,

  • pemasangan sistem drainase modern,

  • penguatan pondasi untuk mencegah ambles,

  • serta dokumentasi arkeologi secara menyeluruh.

Restorasi besar ini membuat Borobudur kembali kokoh dan aman untuk generasi mendatang. Pada tahun 1991, Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Borobudur di Era Modern

Saat ini, Borobudur adalah salah satu tujuan wisata budaya terbesar di dunia. Ribuan pengunjung datang setiap hari untuk melihat megahnya relief-relief, struktur bertingkat, dan filosofi mendalam yang diabadikan dalam batu. Selain sebagai objek wisata, Borobudur juga menjadi pusat kegiatan keagamaan seperti Waisak, serta tempat penting untuk penelitian arkeologi dan sejarah peradaban Jawa.

Keberadaan Borobudur tidak hanya memperkaya kebanggaan budaya Indonesia, tetapi juga memberikan gambaran tentang tingginya kemampuan teknis dan spiritual masyarakat Jawa pada masa lalu. Monumen ini menjadi bukti bahwa Nusantara memiliki tradisi keilmuan, seni, dan peradaban yang sangat maju bahkan sebelum bangsa lain mengenalnya.

Kesimpulan

Borobudur adalah mahakarya yang merepresentasikan kecerdasan teknik, kedalaman spiritual, dan kemegahan peradaban Jawa abad ke-8. Pembangunannya melibatkan kerja keras ribuan orang, pemahaman matematis dan arsitektural yang luar biasa, serta filosofi yang menggambarkan perjalanan manusia menuju pencerahan. Dari masa keemasan, masa hilang, hingga kebangkitannya kembali, Borobudur telah melewati perjalanan panjang lebih dari seribu tahun. Kini, sebagai Situs Warisan Dunia, Candy Borobudur menjadi simbol bahwa karya besar manusia dapat bertahan melampaui waktu dan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

About Post Author

Randy Scott

Website ini didirikan oleh RandyScott yang sudah memiliki passion besar terhadap dunia digital dan teknologi informasi. Berawal dari keinginan untuk menghadirkan platform yang informatif, inovatif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas, sang pendiri berkomitmen untuk mengembangkan situs ini menjadi ruang digital yang bermanfaat bagi semua pengguna.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %