Perjalanan Panjang Tiongkok: Kelahiran Republik Rakyat Tiongkok – Sejarah Tiongkok adalah kisah panjang yang penuh dengan peristiwa-peristiwa dramatis yang membentuk identitasnya sebagai negara besar dan berpengaruh di dunia. Salah satu babak paling menentukan dalam sejarah Tiongkok adalah kelahiran Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949. Keberhasilan revolusi yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) ini menandai berakhirnya lebih dari dua ribu tahun sistem kekaisaran dan awal dari era baru dalam perjalanan negara Tiongkok yang kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan politik utama dunia.
Namun, perjalanan menuju kelahiran Republik Rakyat Tiongkok tidaklah singkat dan mudah. Revolusi ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan dinasti terakhir yang lemah, ketidakadilan sosial yang mendalam, serta invasi asing yang memperburuk kondisi negara. Dalam artikel ini, kita akan menyusuri perjalanan panjang Tiongkok, mengulas latar belakang sejarahnya, perjuangan dalam menghadapi perang, serta akhirnya kelahiran negara sosialis yang baru, yaitu Republik Rakyat Tiongkok.
Kejatuhan Dinasti Qing
Pada abad ke-19, Dinasti Qing yang telah memerintah Tiongkok selama lebih dari dua abad berada dalam keadaan yang sangat rapuh. Beberapa faktor menyebabkan kemunduran dinasti ini, di antaranya adalah penurunan ekonomi, korupsi, dan ketidakpuasan rakyat. Selain itu, invasi asing juga menjadi tantangan besar bagi Qing. Tiongkok mengalami serangkaian kekalahan dalam pertempuran-pertempuran besar melawan negara-negara Barat, seperti Inggris dalam Perang Opium (1839–1842) dan Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang Pertama (1894–1895). Kekalahan ini mengakibatkan Tiongkok terpaksa membuka pelabuhan-pelabuhan penting untuk perdagangan asing dan memberikan konsesi wilayah yang memperburuk ketegangan sosial dan politik di dalam negeri.
Pada awal abad ke-20, meskipun ada upaya reformasi oleh kekaisaran Qing, seperti Gerakan Reformasi 1898, dinasti ini gagal mengatasi masalah internal yang terus berkembang. Rakyat Tiongkok semakin kehilangan kepercayaan terhadap kekuasaan Qing, dan mulai muncul keinginan untuk menggulingkan sistem kekaisaran yang sudah usang. Pada tahun 1911, ketidakpuasan ini mencapai puncaknya dengan meletusnya Revolusi Xinhai, yang dipimpin oleh kelompok-kelompok nasionalis dan intelektual, yang menginginkan perubahan radikal di Tiongkok.
Revolusi Xinhai berhasil menggulingkan Dinasti Qing dan mengakhiri lebih dari dua ribu tahun sistem kekaisaran di Tiongkok. Pada tanggal 12 Februari 1912, Pemerintahan Republik Tiongkok dibentuk di bawah Sun Yat-sen, yang dianggap sebagai bapak pendiri Republik Tiongkok. Meskipun demikian, pemerintahan baru ini tidak mampu menyelesaikan masalah besar yang dihadapi negara, seperti ketidakstabilan politik, pertikaian antara faksi-faksi militer, dan kemiskinan yang melanda sebagian besar rakyat Tiongkok.
Munculnya Partai Komunis Tiongkok
Setelah pembentukan Republik Tiongkok, negara ini mengalami masa ketidakstabilan yang panjang. Pemerintahan yang lemah, konflik antara faksi-faksi militer yang dikenal dengan sebutan Warlords, serta kekacauan sosial membuat Tiongkok kesulitan untuk bersatu dan berkembang. Selain itu, pada tahun 1919, Tiongkok juga menjadi korban dari perjanjian-perjanjian internasional yang tidak menguntungkan setelah Perang Dunia I. Dalam perjanjian tersebut, Jepang mendapat kontrol atas wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Jerman di Tiongkok, yang semakin memicu kemarahan rakyat.
Krisis ini menyebabkan kebangkitan ideologi sosialisme dan komunisme di kalangan intelektual muda Tiongkok. Pada tahun 1921, Partai Komunis Tiongkok (PKT) didirikan di Shanghai. Pemimpin utamanya, Mao Zedong, yang kemudian menjadi tokoh kunci dalam sejarah Tiongkok, mulai mempopulerkan ideologi Marxisme-Leninisme di kalangan rakyat. PKT awalnya memiliki sedikit pengaruh, tetapi semakin berkembang berkat ketidakpuasan yang meluas terhadap sistem pemerintahan yang ada.
Namun, perjalanan PKT untuk merebut kekuasaan tidak mudah. Pada tahun 1927, Chiang Kai-shek, seorang pemimpin militer dan tokoh utama dalam Partai Nasionalis Tiongkok (Kuomintang atau KMT), yang awalnya bekerja sama dengan PKT, mulai memutuskan hubungan dengan mereka. Hal ini memicu Perang Saudara Tiongkok antara KMT yang dipimpin oleh Chiang dan PKT yang dipimpin oleh Mao Zedong. PKT terpaksa melarikan diri ke daerah pedalaman dalam sebuah perjalanan panjang yang dikenal dengan Perjalanan Panjang (Long March). Meskipun dalam keadaan sangat terdesak, Mao dan pasukannya berhasil bertahan dan mendapatkan dukungan rakyat, khususnya petani-petani yang miskin dan tertindas.
Perang Dunia II dan Pengaruh Jepang di Tiongkok
Pada saat PKT sedang terdesak dalam perang saudara, Tiongkok juga terlibat dalam Perang Dunia II. Pada tahun 1937, Jepang melancarkan invasi besar-besaran ke Tiongkok, yang dikenal dengan nama Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Kekuatan militer Jepang yang jauh lebih unggul membuat Tiongkok kesulitan, tetapi perang ini juga memberikan kesempatan bagi PKT untuk memperluas pengaruhnya, karena banyak pasukan KMT yang sibuk bertempur melawan Jepang.
Selama perang, PKT berhasil mendapatkan simpati rakyat, terutama melalui kebijakan yang mendukung para petani dan kelompok yang tertindas oleh Jepang dan KMT. Mao Zedong memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat posisinya, dengan memberikan janji-janji pembebasan sosial bagi rakyat miskin dan terpinggirkan.
Sementara itu, pada akhir Perang Dunia II, Jepang kalah dan menyerah pada sekutu, namun Tiongkok kembali terperangkap dalam konflik internal antara KMT dan PKT. Konflik ini berkembang menjadi Perang Saudara Tiongkok Kedua, di mana kedua belah pihak saling berebut kekuasaan.
Kemenangan Partai Komunis Tiongkok
Setelah perang saudara yang panjang, PKT akhirnya berhasil mengalahkan KMT yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Lapangan Tiananmen, Beijing. Mao mengumumkan bahwa Tiongkok sekarang adalah negara sosialis yang bebas dari imperialisme dan eksploitasi oleh kekuatan asing.
Dengan kemenangan PKT, Tiongkok memasuki fase baru dalam sejarahnya. Negara ini mulai mengimplementasikan kebijakan-kebijakan sosialis yang radikal, termasuk kolektivisasi pertanian, industrialisasi besar-besaran, dan reformasi politik yang mengarah pada penguatan kekuasaan Partai Komunis. Meskipun kemenangan ini dipandang sebagai pembebasan bagi sebagian besar rakyat Tiongkok, proses pembangunannya penuh dengan tantangan.
Mao Zedong dan PKT menghadapi kesulitan dalam mereformasi negara yang luas dan padat penduduk ini. Kebijakan-kebijakan seperti Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) dan Revolusi Kebudayaan (Cultural Revolution) yang dicanangkan Mao. Meskipun dimaksudkan untuk mempercepat transformasi sosial dan ekonomi. Justru menyebabkan kekacauan besar, kelaparan massal, dan penindasan terhadap kelas-kelas tertentu.
Transformasi Tiongkok dan Pengaruh Global
Meskipun banyak tantangan yang dihadapi pada awal berdirinya, Republik Rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan dirinya menjadi kekuatan global yang besar. Di bawah kepemimpinan Mao dan penggantinya, Tiongkok telah berkembang menjadi negara industri yang maju dengan pengaruh politik yang signifikan di seluruh dunia. Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling berpengaruh dalam geopolitik global. Terutama setelah kebijakan Reformasi dan Pembukaan yang dimulai pada tahun 1978 oleh Deng Xiaoping. Dengan membawa negara ini menuju ekonomi pasar yang lebih terbuka dan lebih terhubung dengan dunia internasional.
Kesimpulan
Kelahiran Republik Rakyat Tiongkok pada 1949 menandai titik balik penting dalam sejarah dunia. Revolusi Tiongkok yang panjang dan penuh tantangan. Ini menggulingkan kekuasaan dinasti Qing dan kemudian memunculkan negara sosialis yang hingga kini menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Meskipun Tiongkok menghadapi banyak tantangan internal dalam transisi menuju negara sosialis. Negara ini berhasil memanfaatkan potensi besar rakyatnya dan mengubah dirinya menjadi pemain utama dalam geopolitik global.
Perjalanan Tiongkok dari kekaisaran yang runtuh hingga menjadi Republik Rakyat Tiongkok. Ini merupakan kisah transformasi besar yang telah mempengaruhi sejarah dunia, dan hingga hari ini. Negara ini terus memainkan peran penting dalam politik internasional serta ekonomi global.